![]() |
| Prof. Dr. H. Aunur Rofiq, Lc., M.Ag., Ph.D, saat berada di kampus UIN Malik Malang (Foto:Istimewa) |
kabarbawean.com - Pulau Bawean kembali mencatatkan sejarah membanggakan di panggung akademik nasional. Putra asli Bawean, Prof. Dr. H. Aunur Rofiq, Lc., M.Ag., Ph.D, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Keahlian Tafsir Tematik di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (20/1/2026).
Pengukuhan ini menjadi penanda bahwa dari sebuah pulau kecil di utara Kabupaten Gresik, lahir pemikir besar yang gagasannya diperhitungkan di tingkat nasional hingga global. Dari Bawean, pemikiran tentang Al-Qur’an, dialog, dan perdamaian kini menggema di ruang-ruang akademik.
Dari Bawean Menuju Puncak Akademik
Prof. Aunur Rofiq lahir pada 28 Februari 1967 di Dusun Bengkosobung, Desa Kotakusuma, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kental dengan aktivisme keislaman dan sosial. Ayahnya, Makruf Marzuki, dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah Bawean, sementara ibunya, Nurul Ain, merupakan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Bawean.
Latar keluarga dari dua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut membentuk fondasi awal pandangan keagamaan Prof. Aunur Rofiq yang moderat, inklusif, dan dialogis. Sejak kecil, ia terbiasa hidup dalam suasana perbedaan pandangan yang dikelola melalui musyawarah, saling menghormati, dan kerja bersama untuk kemaslahatan umat. Nilai-nilai inilah yang kemudian mewarnai perjalanan intelektual dan pilihan keilmuannya.
Pengukuhan Guru Besar berlangsung dalam sidang senat terbuka yang dihadiri pimpinan universitas, Dewan Guru Besar, civitas akademika, serta sejumlah tamu undangan. Momentum akademik tertinggi tersebut menjadi saksi pengukuhan jabatan profesor Prof. Aunur Rofiq, sekaligus perayaan atas dedikasi panjangnya dalam dunia keilmuan, khususnya kajian Al-Qur’an dan relasinya dengan realitas sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Aunur Rofiq menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Dialog dalam Al-Qur’an: Kajian Tafsir Tematik tentang Prinsip-prinsip Perdamaian dan Relasi Sosial”. Tema ini menegaskan konsistensinya dalam mengembangkan tafsir Al-Qur’an yang tidak berhenti pada teks, tetapi mampu berdialog dengan tantangan zaman, terutama konflik sosial yang kerap muncul di masyarakat majemuk.
Bagi masyarakat Bawean, Prof. Aunur Rofiq bukan sekadar akademisi. Ia adalah representasi kerja keras, ketekunan, dan perjalanan panjang pendidikan. Lahir dan mengenyam pendidikan dasar di Pulau Bawean, ia tumbuh dari lingkungan sederhana sebelum merantau menimba ilmu ke berbagai perguruan tinggi, termasuk ke luar negeri.
Perjalanan intelektual tersebut ditempuh melalui proses panjang dan penuh disiplin hingga akhirnya mengantarkannya meraih jabatan akademik tertinggi seorang dosen, yakni Guru Besar. Capaian ini menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis tidak menjadi penghalang bagi putra daerah untuk berkiprah di level tertinggi dunia akademik.
Dialog Qur’ani sebagai Jawaban atas Konflik
Dalam orasinya, Prof. Aunur Rofiq menegaskan bahwa konflik merupakan realitas sosial yang tidak dapat dihindari, terutama dalam masyarakat yang multietnik, multikultural, dan multiagama. Namun, konflik tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi kekerasan dan perpecahan yang merusak tatanan sosial.
“Al-Qur’an menawarkan dialog sebagai jalan etis dan teologis dalam mengelola perbedaan serta membangun perdamaian,” tegas Prof. Aunur Rofiq di hadapan sidang senat.
Menurutnya, dialog dalam perspektif Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas komunikasi verbal, melainkan sebuah paradigma moral dan sosial. Dialog Qur’ani meniscayakan sikap saling menghormati, pengakuan terhadap keberadaan pihak lain, serta pencarian solusi yang berkeadilan.
Secara akademik, Prof. Aunur Rofiq memformulasikan tiga lapisan dialog Qur’ani.
Pertama, lapisan teologis-normatif, yang memandang dialog sebagai sunnatullah dalam komunikasi Ilahi dan relasi manusia. Kedua, lapisan etis-dialogis, yang menempatkan dialog sebagai mekanisme pengelolaan konflik berbasis nilai keadilan, kesabaran, dan musyawarah. Ketiga, lapisan aplikatif-struktural, di mana dialog berfungsi sebagai instrumen rekayasa sosial dalam resolusi konflik komunal dan struktural.
“Dialog Qur’ani bukan hanya berbicara soal komunikasi, tetapi juga tentang keadilan, pengakuan terhadap pihak lain, dan rekayasa sosial yang berorientasi pada perdamaian berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada level interpersonal, dialog Qur’ani mendorong sikap saling mendengar, pengendalian emosi, dan empati. Pada level komunal dan antaragama, konsep kalimah sawā’ menjadi fondasi dialog lintas iman berbasis nilai universal. Sementara pada level struktural, prinsip syūrā relevan untuk diintegrasikan dalam kebijakan publik yang partisipatif dan berkeadilan.
Kontribusi Ilmiah dan Relevansi Global
Gagasan Prof. Aunur Rofiq memiliki relevansi kuat dengan perkembangan peace studies dan conflict transformation dalam kajian akademik global. Melalui pendekatan tafsir tematik yang integratif dan interdisipliner, ia menjembatani khazanah tafsir klasik dengan tantangan sosial kontemporer, termasuk konflik berbasis identitas, agama, dan kepentingan politik.
Karya-karya ilmiahnya dikenal luas dalam bidang Studi Al-Qur’an, tafsir tematik, resolusi konflik, dan relasi sosial. Ia menegaskan bahwa tantangan ke depan adalah menjaga agar ilmu agama tetap kontekstual dan mampu memberi solusi nyata di tengah perubahan sosial, teknologi, dan dinamika global.
“Guru Besar tidak hanya bertugas mengajar dan meneliti, tetapi juga menjaga nilai moral dan menjadi katalisator perubahan konstruktif di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Kebanggaan dan Inspirasi bagi Bawean
Bagi masyarakat Bawean, pengukuhan ini bukan sekadar prestasi individu. Capaian Prof. Aunur Rofiq menjadi simbol bahwa dari Bawean dapat lahir pemikir yang menyumbangkan gagasan besar bagi peradaban. Latar keluarganya yang berakar pada Muhammadiyah dan NU menjadikannya figur pemersatu, sekaligus representasi Islam yang dialogis, damai, dan humanis.
“Saya berharap capaian ini tidak berhenti pada diri saya, tetapi menjadi inspirasi bagi generasi muda Bawean untuk terus belajar, bermimpi, dan berkontribusi bagi kemanusiaan,” ucapnya.
Ke depan, Prof. Aunur Rofiq berkomitmen untuk terus mengembangkan riset tafsir tematik yang relevan dengan tantangan zaman, memperkuat dialog antara agama dan realitas sosial, serta meneguhkan peran akademisi sebagai agen perdamaian di tengah dunia yang terus berubah.
Dari sebuah pulau kecil di Laut Jawa, gagasan besar tentang perdamaian dunia kini lahir dan menggema di panggung akademik nasional.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan

