Permintaan Ekspor Tinggi, Warga Bawean Didorong Manfaatkan Lahan Nganggur untuk Tanam Nilam

Proses pembakaran dalam penyulingan minyak atsiri di Desa Sungairujing, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean. (Foto:Istimewa)

kabarbawean.com - Masih banyak lahan milik warga di Pulau Bawean yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku usaha minyak atsiri, menyusul tingginya permintaan minyak nilam dari pasar ekspor yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi akibat terbatasnya bahan baku gabah nilam kering.

Owner UKM Nilam Atseri yang berlokasi di Dusun Taubat, Desa Sungai Rujing, Kecamatan Sangkapura, Mohammad Yusuf, mengatakan kebutuhan bahan baku nilam terus meningkat seiring permintaan pasar internasional. Namun, ketersediaan gabah nilam kering dari Bawean masih belum mencukupi.

“Permintaan minyak nilam sangat tinggi, tapi kami belum bisa memenuhi semuanya karena bahan baku gabah nilam kering belum tersedia secara maksimal,” ujar Mohammad Yusuf, Minggu (11/1/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya membuka peluang besar bagi masyarakat Bawean, mengingat banyak lahan milik warga yang saat ini masih dibiarkan nganggur dan belum produktif.

“Masih banyak lahan warga yang belum dimanfaatkan. Kalau lahan itu ditanami nilam, selain memenuhi kebutuhan bahan baku, juga bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat,” jelasnya.

Minyak nilam asal Bawean dikenal memiliki kualitas unggulan dan sangat diminati eksportir. Kandungan alkoholnya mencapai 29,03 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata minyak nilam dari daerah lain. Pada tahun 2026, UKM Nilam Atseri menargetkan pengiriman minimal 400 kilogram minyak nilam setiap dua bulan sekali ke pasar ekspor.

Namun, untuk tahun ini ketersediaan bahan baku gabah nilam kering diperkirakan baru mencapai 3 hingga 4 ton dan baru siap disuling pada Maret 2026.

Sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat, UKM Nilam Atseri menyediakan bibit tanaman nilam dengan harga Rp3.500 per bibit. Sepanjang Januari 2026, sebanyak 12.000 bibit telah terserap oleh masyarakat. Bagi warga yang berminat menanam nilam, pihak UKM meminta agar melakukan konfirmasi terlebih dahulu terkait jumlah bibit yang dibutuhkan.

UKM Minyak Atsiri Bawean mulai beroperasi sejak Juni 2025, setelah melalui tahapan penanaman nilam pada akhir 2024. Selain memproduksi minyak nilam, UKM ini juga menghasilkan minyak atsiri nampo serta menyerap tenaga kerja lokal.

Harga minyak atsiri nilam saat ini berada di kisaran Rp600 ribu per liter. Selain bernilai ekonomi tinggi, minyak atsiri nilam memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai bahan baku parfum, kosmetik, aromaterapi, hingga industri farmasi. Minyak nilam juga berfungsi sebagai fiksatif alami yang membuat aroma lebih tahan lama.

Melalui pemanfaatan lahan nganggur untuk tanaman nilam, masyarakat Bawean diharapkan dapat mengambil peran langsung dalam memenuhi kebutuhan bahan baku, sekaligus memperkuat ekonomi lokal berbasis potensi daerah.

“Saya berharap masyarakat Bawean bisa memanfaatkan lahan yang dimiliki untuk menanam nilam. Kalau bahan baku tercukupi, permintaan pasar bisa terpenuhi dan ini berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Yusuf.

Editor: Ahmad Faiz         Reporter: Saiful Hasan

saiful hasan

Jurnalis di Media Kabar Bawean. “Jika tak lahir sebagai cahaya, jadilah cahaya melalui tulisan."

Lebih baru Lebih lama