![]() |
| Gambar ilustrasi |
kabarbawean.com - Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari berbagai ujian. Ada masa ketika seseorang berada dalam kesulitan, kekurangan, dan sakit. Namun di waktu lain, manusia justru diuji dengan kesehatan, kelapangan rezeki, jabatan, serta kemudahan hidup.
Dalam perspektif Islam, seluruh kondisi tersebut bukanlah peristiwa yang terjadi tanpa makna, melainkan bagian dari tujuan penciptaan manusia itu sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dari keadaan tiada menjadi ada, dari sesuatu yang bukan apa-apa menjadi makhluk yang sempurna, dengan satu tujuan penting: menjalani ujian kehidupan. Ujian tersebut sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah, bukan berdasarkan pilihan manusia. Setiap hamba diuji sesuai dengan batas kemampuannya, sebagaimana firman Allah:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)
Dua Bentuk Ujian dalam Kehidupan
Pembaca yang budiman, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ujian kehidupan secara umum terbagi menjadi dua bentuk utama, yakni keburukan dan kebaikan. Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Sesungguhnya setiap jiwa pasti merasakan mati; dan Kami uji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya [21]: 35)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa keburukan dapat berupa sakit, kesempitan hidup, atau kesulitan, sedangkan kebaikan bisa berupa kesehatan, kelapangan rezeki, serta kedudukan. Keduanya sama-sama ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun, dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak orang yang hanya menganggap kesulitan sebagai ujian. Ketika diuji dengan sakit atau kesempitan ekonomi, seseorang mudah berkata bahwa dirinya sedang diuji oleh Allah. Sebaliknya, ketika berada dalam kondisi sehat, mapan, dan berkuasa, ujian tersebut sering kali tidak disadari.
Ujian Kenikmatan yang Sering Terlupakan
Ujian berupa kebaikan dan kenikmatan sering kali lebih berat dibanding ujian berupa musibah. Al-Qur’an mengingatkan bahwa tidak sedikit manusia yang justru gagal ketika diuji dengan kelapangan, kesehatan, dan kemudahan hidup. Allah SWT berfirman:
قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
“Sedikit sekali di antara kalian yang bersyukur.” (QS. Al-Mulk [67]: 23)
Ayat ini menunjukkan bahwa banyak manusia gagal ketika diuji dengan kebaikan. Rasa syukur yang ditunjukkan sering kali tidak sebanding dengan besarnya nikmat yang diterima. Inilah yang menjelaskan mengapa Rasulullah SAW, meskipun telah dijamin ampunan oleh Allah, tetap beristighfar tidak kurang dari 100 kali setiap hari.
Istighfar tersebut bukan semata-mata karena dosa besar, tetapi juga sebagai bentuk kesadaran bahwa manusia sering lalai dalam mensyukuri nikmat Allah secara utuh.
Ujian sebagai Tolok Ukur Keimanan
Ujian juga menjadi tolok ukur keimanan seseorang. Allah SWT menegaskan bahwa pengakuan iman tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi harus dibuktikan melalui ujian kehidupan. Allah berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’, sementara mereka belum diuji?” (QS. Al-Ankabut [29]: 2)
Sebagaimana seorang pelajar tidak akan naik kelas tanpa ujian, demikian pula manusia tidak akan naik derajat di sisi Allah tanpa cobaan. Perbedaannya, ujian kehidupan tidak mengenal ujian ulang. Ketika seseorang wafat, maka berakhirlah seluruh kesempatan untuk memperbaiki jawaban atas ujian tersebut.
Semakin Tinggi Iman, Semakin Besar Ujian
Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, semakin besar pula ujian yang dihadapinya. Allah SWT berfirman:
أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ
“Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta digoncangkan hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Bilakah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 214)
Ayat ini menegaskan bahwa jalan menuju surga bukanlah jalan tanpa ujian. Kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur menjadi kunci utama dalam menyikapi setiap fase kehidupan.
Hidup adalah proses pendidikan iman. Setiap keadaan baik sulit maupun lapang merupakan ujian yang bertujuan mendewasakan manusia secara spiritual. Yang terpenting bukanlah bentuk ujiannya, melainkan bagaimana manusia menyikapinya dengan kesabaran, syukur, dan keimanan.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Abd.Rauf
