Kapal Tongkang dan Porsen di Perairan Bawean Dinilai Ganggu Mata Pencaharian Nelayan Lokal

kapal-kapal porsen yang berada di perairan Bawean (Foto:Istimewa)
kabarbawean.com - Aktivitas kapal tongkang dan porsen yang berlindung di perairan Kepuh Teluk dan Kepuh Lagundi, Bawean, sejak pertengahan Desember 2025, mulai menimbulkan tekanan bagi nelayan kecil setempat.

Habib, warga Desa Kepuhteluk sekaligus nelayan, menjelaskan bahwa kawasan tersebut menjadi satu-satunya lokasi aman bagi kapal saat musim barat.

“Tongkang dan porsen berada di area perairan Kepuh Teluk dan Kepuh Lagundi dalam keadaan berlindung karena cuaca buruk, dan di sana satu-satunya tempat yang bisa dikatakan aman. Dalam berlindung, mereka ada yang masuk dan keluar bergiliran,” ungkap Habib saat diwawancarai via telepon, Selasa (13/1/2026).

Ia menyebutkan beberapa dampak yang dirasakan nelayan kecil.

“Kebisingan dan getaran mesin mereka membuat ikan menjauh. Saat berlindung, mereka menurunkan jangkar yang berpotensi merusak terumbu karang. Selain itu, aktivitas nelayan kecil menjadi kurang leluasa karena banyaknya tongkang dan porsen, sehingga sulit bermanuver,” jelas Habib.

Habib berharap kapal tongkang dan porsen dapat mengatur lokasi berlindung dengan lebih baik, sehingga tidak merusak terumbu karang dan tetap memberi akses bagi nelayan kecil. Dengan demikian, nelayan dapat melaut lebih leluasa untuk mencari ikan dan mencegah terjadinya gesekan antar nelayan.

“Saya berharap mereka mengatur tempat berlindung yang tidak merusak terumbu karang dan tidak menutup akses nelayan kecil. Dengan begitu, nelayan bisa lebih leluasa mencari ikan dan tidak terjadi gesekan antar nelayan,” tambahnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Dianne Hetty Widajatie, Kabid Pengelolaan dan Pengawasan Sumberdaya Dinas Perikanan Gresik, memastikan pihaknya akan mengambil langkah koordinasi untuk mengatasi masalah tersebut.

“Sesuai UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah pasal 14, perairan 0–12 mil berada di kewenangan provinsi, jadi kabupaten sebenarnya tidak punya kewenangan langsung. Namun, kami tetap peduli dengan kondisi nelayan kami,” jelas Dianne saat diwawancarai via telepon, Selasa (13/1/2026).

Dianne menambahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Polair, baik Polair Polda maupun Polair Polres, serta Polair Bawean, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur untuk menghalau kapal-kapal porsen dari luar Bawean yang dianggap mengganggu nelayan lokal.

“Saya akan koordinasikan nanti, karena di kabupaten biasanya Polair Polda memerintahkan Polair Polres untuk ikut mengawasi dan menindak kapal-kapal yang merugikan nelayan. Dengan koordinasi ini, kami berharap nelayan kecil bisa kembali melaut dengan aman dan leluasa,” tambah Dianne.

Editor: Ahmad Faiz             Reporter: Saiful Hasan

saiful hasan

Jurnalis di Media Kabar Bawean. “Jika tak lahir sebagai cahaya, jadilah cahaya melalui tulisan."

Lebih baru Lebih lama