![]() |
| Anggota DPRD Gresik Bustami Hazim dari Fraksi PKB saat membagikan bantuan kepada masyarakat Bawean yang terdampar di Gresik sebab cuaca buruk (Foto: Istimewa) |
kabarbawean.com - Di tengah terhentinya pelayaran akibat cuaca buruk, Anggota DPRD Kabupaten Gresik dari Fraksi PKB, Bustami Hazim, menunjukkan kepedulian nyata dengan menyalurkan bantuan kepada warga Pulau Bawean yang terdampar di Gresik.
Sedikitnya 105 warga Bawean telah menerima bantuan awal yang disalurkan melalui rumah singgah NU dan rumah singgah PSB dan ditempat lain. Bantuan tersebut diberikan untuk meringankan beban warga yang belum bisa kembali ke Pulau Bawean akibat pelayaran yang lumpuh selama lebih dari sepekan.
“Ada sekitar 105 warga yang sudah kita salurkan bantuannya hari ini. Sisanya, insyaallah besok akan kita upayakan agar semuanya bisa mendapatkan bantuan, setidaknya untuk meringankan beban warga Bawean yang ada di Gresik,” ujar Bustami, Kamis (15/1/2026).
Aksi kemanusiaan tersebut merupakan bagian dari rangkaian langkah yang terus dikawal Bustami bersama dalam merespons dampak cuaca ekstrem di perairan Bawean. Ia menyebut, sejak awal intensif berkomunikasi dengan Dinas Perhubungan dan Pemerintah Kabupaten Gresik untuk mencari solusi transportasi bagi warga Bawean, baik yang hendak menuju pulau maupun sebaliknya.
Menurutnya, komunikasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry juga telah dilakukan guna meminta bantuan pengoperasian KMP Drajat. Namun, kapal tersebut hingga kini masih berada dalam status larangan berlayar karena faktor keselamatan akibat gelombang tinggi.
Upaya lain pun ditempuh dengan berkoordinasi bersama Koarmatim untuk memperbantukan armada kapal perang sebagai langkah darurat. Akan tetapi, seluruh armada Koarmatim saat ini sedang digunakan untuk penanganan bencana di Sumatra dan diperkirakan baru kembali ke Surabaya sekitar 25 Januari mendatang.
“Alternatif terakhir yang paling memungkinkan saat ini adalah meminta bantuan armada swasta, seperti Dharma Lautan Utama, yang selama ini juga sering membantu mobilisasi masyarakat Bawean. Hari ini kami masih menunggu update dari Dishub terkait komunikasi tersebut,” jelasnya.
Dampak terhentinya pelayaran semakin terasa. Berdasarkan data sementara, sekitar 300 calon penumpang asal Bawean terpaksa menginap di penginapan di Gresik. Jumlah tersebut belum termasuk puluhan warga lainnya yang tinggal di kos-kosan maupun rumah kerabat.
Bustami menambahkan, pelayaran terakhir tercatat beroperasi sekitar 9 hingga 10 hari lalu, sehingga persoalan yang dihadapi tidak hanya menyangkut mobilisasi penumpang, tetapi juga distribusi bahan kebutuhan pokok ke Pulau Bawean.
“Yang menjadi konsen utama kami bukan hanya bagaimana memindahkan warga, tetapi juga bagaimana bahan kebutuhan pokok bisa sampai ke Bawean. Karena kalau logistik terganggu, harga akan melonjak dan masyarakat yang paling terdampak,” tegasnya.
Lebih jauh, Bustami berharap Pemerintah Kabupaten Gresik melakukan mitigasi yang lebih serius ke depan. Ia menilai kondisi cuaca ekstrem di Bawean merupakan kejadian tahunan yang seharusnya sudah diantisipasi, terutama pada periode rawan November hingga Februari.
“Logistik, sarana, dan SDM seharusnya sudah disiagakan di Pulau Bawean sejak awal. Jadi ketika cuaca buruk terjadi, masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada distribusi dari Gresik,” ujarnya.
Untuk jangka panjang, Bustami juga mendorong adanya alokasi anggaran darurat yang bisa segera digunakan serta jalur koordinasi cepat dengan berbagai armada, termasuk pihak swasta, agar penanganan transportasi dan logistik dapat dilakukan lebih responsif setiap kali cuaca ekstrem melanda.
Editor: Ahmad Faiz Repoter: Saiful Hasan
