![]() |
| Pemdes bersama PLD kebuntelukdalam saat berkunjung memberikan sembako ketempat korban rumah ambruk, Bapak Ahmad Fauzi dan Ibu Ma'aniyah yang mengungsi dirumah tetengganya (Foto:Istimewa) |
kabarbawean.com - Peristiwa tanah amblas atau tanah bergerak yang merusak rumah warga di Dusun Duku, Desa Kebuntelukdalam, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, bukan terjadi secara tiba-tiba. Fenomena pergerakan tanah di lokasi tersebut telah berlangsung sejak dua hingga tiga tahun terakhir dan terus memburuk hingga akhirnya menyebabkan tiga rumah warga terdampak parah.
Kepala Desa Kebuntelukdalam, Salaman, menjelaskan bahwa tanda-tanda pergerakan tanah sudah lama terdeteksi, ditandai dengan munculnya retakan-retakan di sekitar rumah warga. Pemerintah desa pun telah memantau perkembangan kondisi tersebut jauh sebelum kejadian terparah.
“Gerakan tanah ini sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu. Sudah ada retakan-retakan sejak lama. Waktu terjadi gempa, kami langsung menemui pemilik rumah dan menyampaikan agar waspada, karena kondisi tanah memang sudah bermasalah,” ujar Salaman, Senin (19/1/2026).
Menurutnya, sekitar dua minggu sebelum kondisi semakin parah, salah satu warga terdampak kembali menghadap pemerintah desa dan melaporkan bahwa retakan tanah semakin melebar. Bahkan, sebagian tanah mulai tergerus hingga tampak seperti hanyut.
Akibat pergerakan tanah tersebut, tiga rumah warga terdampak dengan jumlah penghuni total 11 jiwa. Satu rumah dihuni oleh tiga orang (suami, istri, dan anak), satu rumah lainnya dihuni dua orang, dan satu rumah di bagian bawah dihuni enam orang. Dari ketiga rumah tersebut, dua rumah mengalami kerusakan paling parah.
Pendamping Lokal Desa (PLD) Kebuntelukdalam, Abd. Rauf, menyebut rumah milik Ahmad Fauzi dan Maknawiyah mengalami amblas di bagian depan dengan kedalaman lebih dari satu meter, sehingga tidak lagi layak dihuni.
“Kondisi terparah ada pada dua rumah. Bagian depan rumah sudah amblas sekitar satu meter lebih. Secara ekonomi, korban juga sangat minim. Ibu Maknawiyah bekerja sebagai buruh tani, sementara Ahmad Fauzi sudah lama sakit dan tidak bekerja. Tulang punggung keluarga adalah istrinya, Ibu Ma’aniyah, yang bekerja sebagai penjahit,” jelas Abd. Rauf.
Sebagai langkah darurat, Pemerintah Desa Kebuntelukdalam langsung turun ke lokasi dan meminta seluruh penghuni rumah terdampak untuk segera mengevakuasi diri guna menjamin keselamatan jiwa. Pemerintah desa bersama warga juga menyalurkan bantuan awal berupa sembako, seperti mie instan, telur, dan gula.
Langkah selanjutnya, pemerintah desa berkoordinasi dengan pihak kecamatan serta desa-desa sekitar untuk memastikan kebutuhan penanganan di lapangan. Atas berbagai masukan, saat itu disarankan pemasangan TPT atau beronjong. Pemerintah desa pun bergerak cepat dan berhasil menyediakan beronjong pada hari yang sama.
“Saya juga meminta tambahan ke Pak Camat, dan alhamdulillah melalui PU disumbangkan 10 beronjong. Total saat ini ada sekitar 25 beronjong yang sudah tersedia,” ungkap Salaman.
Namun, rencana pemasangan beronjong terkendala kondisi cuaca dan situasi tanah. Hujan deras yang terus mengguyur menyebabkan debit air sungai meningkat sehingga menyulitkan pengambilan batu. Selain itu, pergerakan tanah di lokasi masih terus berlangsung.
“Setelah kami kaji, tanah ini bergerak dari bawah, bukan longsor dari atas. Kalau dipasang beronjong, dikhawatirkan justru percuma dan bisa ikut hanyut. Karena itu, kami menilai solusi terbaik adalah relokasi,” tegasnya.
Pada Senin (19/1/2026), pemerintah desa kembali mengunjungi lokasi bersama perangkat desa dan Pendamping lokal desa kembali menyalurkan bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, telur, gula, dan mie instan untuk membantu kebutuhan sementara para korban.
Salaman mengakui keterbatasan anggaran desa akibat perubahan kebijakan dana desa. Meski demikian, pihaknya tetap berupaya maksimal dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan serta warga Bawean di perantauan Malaysia dan Singapura, untuk membantu meringankan beban korban.
“Saat ini rumah sudah tidak mungkin ditempati dan tidak layak direnovasi. Solusinya harus relokasi. Kami akan musyawarah menentukan lokasi, dan desa akan membantu sesuai kemampuan,” ujarnya.
Saat ini, para korban telah menyatakan kesiapan untuk direlokasi, namun masih membutuhkan dukungan pemerintah untuk pembangunan rumah di lokasi baru. Sementara waktu, mereka terpaksa menumpang di rumah tetangga.
Salah satu korban, Maknawiyah, mengatakan pergerakan tanah di rumahnya telah terjadi selama sekitar tiga tahun, namun baru kali ini kondisinya sangat parah.
“Dulu sudah bergerak, tapi belum separah sekarang. Rumah sudah tidak layak ditempati karena tanahnya berlubang di bawah. Kami berharap pemerintah bisa segera menyiapkan rumah yang aman dan layak,” tuturnya.
Ia berharap sebelum Hari Raya Idulfitri, keluarganya sudah memiliki tempat tinggal yang aman.
“Sekarang kami numpang di rumah tetangga, sudah hampir satu minggu. Harapan kami sebelum Lebaran sudah punya rumah sendiri,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Faiz Reporter: Saiful Hasan

