BREAKING NEWS

BKSDA Jatim dan PT Petrokimia Gresik Siapkan Konservasi Rusa Bawean, Penangkaran Dimulai dari Rusa Timor

Penangkaran rusa di PT Petrokimia Gresik di bawah pembinaan BBKSDA Jatim (Foto:Istimewa)

kabarbawean.com - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur bersama PT Petrokimia Gresik mulai menyiapkan program konservasi Rusa Bawean melalui skema penangkaran non-komersial. Pada tahap awal, penangkaran difokuskan pada Rusa Timor sebagai langkah membangun sistem pengelolaan yang sesuai standar konservasi.

Penangkaran ini dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) sebagai bagian dari strategi konservasi ex situ. Sejak awal, kegiatan tersebut ditegaskan bersifat non-komersial dan diarahkan untuk mendukung pelestarian mamalia dilindungi melalui pendekatan bertahap dan berbasis kajian ilmiah.

Balai Besar KSDA Jawa Timur menempatkan penangkaran ini sebagai bagian dari upaya menjaga cadangan genetik satwa, termasuk Rusa Bawean (Axis kuhlii) yang merupakan satwa endemik Pulau Bawean dengan nilai konservasi tinggi. Namun, pengembangannya tidak dilakukan secara instan.

Pada tahap awal, jenis yang dikelola adalah Rusa Timor (Rusa timorensis). Pemilihan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk membangun sistem penangkaran yang sesuai standar konservasi, mengingat Rusa Timor relatif adaptif terhadap lingkungan terkontrol.

Pengelolaan Rusa Timor menjadi sarana pembelajaran teknis dalam membangun sistem penangkaran, mulai dari manajemen pakan, perawatan kesehatan satwa, pencatatan data biologis, hingga sistem pelaporan yang akuntabel. Tahapan ini menjadi fondasi sebelum pengembangan konservasi jenis rusa yang lebih sensitif.

Dalam pelaksanaannya, PT Petrokimia Gresik berperan sebagai mitra pendukung dengan menyediakan lokasi penangkaran melalui kebun riset yang dimiliki. Fasilitas tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan biologis satwa, mulai dari kandang, pakan, kesehatan, hingga pengelolaan lingkungan yang mendekati kondisi alaminya.

Perusahaan juga berkomitmen menyediakan sumber daya serta membuka ruang pembinaan dan evaluasi berkelanjutan oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur. Penangkaran ini ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan perusahaan sekaligus kontribusi dunia industri terhadap pelestarian satwa liar.

Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan bahwa Rusa Bawean dan Kijang (Muntiacus muntjak) diposisikan sebagai program jangka panjang. Pengembangannya akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan sarana prasarana, penguatan kapasitas teknis, serta hasil kajian ilmiah yang komprehensif.

Sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal KSDAE, Balai Besar KSDA Jawa Timur menjalankan fungsi pembinaan, pengawasan, dan pendampingan terhadap seluruh unit penangkaran di wilayah kerjanya, termasuk yang dikelola oleh PT Petrokimia Gresik.

Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Dr. Ichwan Muslih, menegaskan bahwa penangkaran non-komersial ini sejak awal dirancang sebagai proses jangka panjang yang mengedepankan ketepatan.

“Penangkaran ini kami pandang sebagai proses yang harus dijalani dengan kehati-hatian. Fokus awal pada Rusa Timor merupakan bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan yang benar dan berkelanjutan,” ungkap Ichwan.

“Untuk Rusa Bawean dan Kijang, pendekatan yang dipilih adalah jangka panjang, dengan memastikan kesiapan teknis, sarana prasarana, dan dasar ilmiah yang kuat. Balai Besar KSDA Jawa Timur akan terus melakukan pembinaan dan pengawasan agar tujuan konservasi tetap menjadi landasan utama,” imbuhnya.

Pemilihan Rusa Timor sebagai tahap awal bukan berarti mengesampingkan pentingnya Rusa Bawean. Sebaliknya, pengalaman teknis dan data biologis dari fase awal ini akan menjadi pijakan penting sebelum memasuki tahap konservasi spesies endemik Pulau Bawean tersebut.

Di tengah tekanan terhadap habitat dan populasi satwa liar, langkah konservasi yang ditempuh secara bertahap ini menegaskan bahwa pelestarian Rusa Bawean membutuhkan waktu, ketekunan, serta kolaborasi antara negara dan dunia industri.

Editor: Ahmad Faiz             Reporter: Saiful Hasan